Tradisi Upacara Ngaben di Bali

Bali adalah sebuah pulau yang terkenal sebagai Pulau Dewata, dimana ada banyak surga yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain sifatnya yang menawan yang menjadi daya tarik eksotis, Bali juga memiliki banyak tujuan wisata memikat lainnya. Ini adalah daya tarik tradisional yang jauh lebih terkenal. Artikel ini akan menunjukkan daya tarik wisata di Bali yang bisa Anda nikmati dalam liburan Anda saat berada di sana.

Tradisi Upacara Ngaben di Bali

Salah satu yang bisa Anda temukan di Bali adalah upacara Ngaben. Ngaben adalah tradisi spiritual yang tampaknya menjadi kewajiban khas umat Hindu Bali terhadap nenek moyang mereka. Dengan melakukan proses kremasi ke mayat. Menurut Pitra Yadnya, tubuh manusia terdiri dari tiga kategori: tubuh nyata, spirit, dan karma. Tubuh jasmani manusia dikategorikan sebagai tubuh nyata, dimana tinggal lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari pertiwi (padat), apah (cair), teja (panas), bayu (angin), dan akasa (vacuity). Lima elemen yang membentuk tubuh fisik manusia ini kemudian digerakkan dengan bantuan atma (roh). Bila manusia mati, hanya tubuh sejati yang sudah mati, tidak dengan roh.

Inilah peran Ngaben sebagai proses pengudusan semangat atau saat roh meninggalkan tubuh berlangsung. Ada beberapa pendapat tentang asal kata ‘ngaben’. Beberapa mengatakan bahwa itu berasal dari kata ‘beya’ yang berarti ketentuan, sementara ada yang mengatakan bahwa itu berasal dari kata ‘ngabu’ yang berarti menjadi abu. Prinsip Hindu mengatakan bahwa Brahman bukan hanya tuhan ciptaan, tapi juga dewa api. Oleh karena itu, kecendrungan semangat Ngaben menggunakan api sebagai media, untuk menemukan perhentian akhir untuk bertemu dengan Brahman. Api yang digunakan adalah api nyata untuk membakar tubuh, dan api abstrak seperti mantra pendeta untuk membakar kotoran yang menempel di dalam roh.

Upacara Ngaben juga disebut upacara Palebon, terutama untuk almarhum. Upacara ini dianggap penting, ramai, dan meriah karena keluarga bisa mengatur semangat almarhum bebas dari masalah sekuler. Hal ini diperlukan untuk menyiapkan sejumlah besar waktu dan biaya bagi keluarga yang bersedia melaksanakan upacara tersebut, sehingga terkadang upacara diadakan beberapa saat setelah kematian. Mengingat bahwa Ngaben banyak biaya, saat ini orang melakukan tradisi ini dalam upacara masal. Mereka pertama kali mengubur almarhum sampai mereka memiliki cukup dana.
Saat melakukan Ngaben, orang Hindu biasanya melakukan konsultasi untuk menentukan hari yang tepat yang diberikan oleh pastor. Keluarga perlu menyiapkan ‘bade’ dan ‘lembu’ yang terbuat dari bambu, kayu, dan kertas berwarna sesuai dengan kasta / status sosial keluarga.

Upacara dan ritual Ngaben dilakukan dengan persembahan sebagai simbol ritual yang umumnya dilakukan oleh orang Bali Hindu. Upacara Ngaben hanya dilakukan untuk almarhum yang tubuhnya tetap diawetkan. Sementara, bagi Ngaben yang tidak melakukan tubuh, hanya perlu membuat simbol representatif dan mengambil segenggam tanah dimana orang tersebut dikubur untuk dibakar.
Langkah ngaben terdiri dari mandi / pembersihan tubuh, ngajum atau membuat simbol, membakar tubuh, dan nyekah atau melepaskan semangat. Setiap langkah membutuhkan penawaran yang berbeda satu sama lain. Saat seseorang meninggal, keluarganya mendatangi imam untuk menentukan hari yang tepat untuk melakukan Ngaben. Biasanya, hari yang tepat tidak lebih dari tujuh hari setelah orang tersebut pergi.

Related posts:

Tinggalkan Balasan